Sarana Informasi Pertanian

Berbagi Informasi Pertanian, Perkebunan dan Peternakan

Menu

Tanaman Penutup Tanah (LCC) Pada Kelapa Sawit

Tanaman Penutup Tanah atau Leguminous Cover Crop (LCC) – Dalam budidaya Kelapa Sawit pada proses penanam awal kelapa sawit seteleh dilakukan persiapan lahan dan penanaman bibit kelapa sawit. Maka yang harus diperhatikan selanjutnya yaitu penanaman tanaman penutup tanah atau sering juga disebut LCC ( Legumus Cover Crop ).

Pengertian Tanaman Penutup Tanah

Tanaman penutup juga meminimalkan kerugian pencucian hara dan mengurangi kompetisi dari gulma berbahaya. Ketika memilih tanaman penutup tanah, preferensi selalu diberikan kepada kacang-kacangan karena mereka memperbaiki nitrogen dan membuatnya tersedia untuk tanaman utama (Hartley, 1977).

Tujuan Tanaman Penutup Tanah

Adapun tanaman penutup tanah bertujuan menekan pertumbuhan gulma, dan memiliki tujuan atau manfaat lain yaitu :

  • Menghemat dan meningkatkan unsur hara tanah, melalui fiksasi Nitrogen
  • Menambah bahan organik tanah
  • Memperbaiki keadaan fisik tanah (struktur tanah, permeabilitas, aerasi, dll)
  • Meningkatkan perkembangan perakaran kelapa sawit
  • Mencegah erosi
  • Memperbaiki kondisi lingkungan

Jenis-jenis kacangan atau Tanaman Penutup Tanah

A. Tanaman Penutup Tanah Peuraria Javanica (PJ)

Biji Benih Peuraria javanica (PJ)

Biji Benih Peuraria javanica (PJ)

tanaman penutup tanah

tanaman penutup tanah

Tanaman kacangan Pueraria javanica (PJ) merupakan salah satu tanaman penutup tanah yang banyak dipakai di perkebunan. Biasa PJ ditanam bersamaan tanaman kacangan lain seperti Calopogonium mucunoides (CM) dan Centrosema pubescens (CP). Kebutuhan PJ di Indonesia diperkirakan mencapai 1600 ton per tahun.

Pembungaan merupakan suatu proses perubahan dari fase vegetatif menjadi fase generatif. Sebagian besar tanaman proses pembungaan dikontrol oleh durasi pencahayaan atau disebut fotoperiode.

Adanya dinamika lamanya pencahayaan ini akan menginduksi zat pengatur tumbuh yang sering disebut florigen di daun. Senyawa tersebut kemudian ditransportasikan melalui fluem sampai ke meristem apical dan lateral tunas. Di dalam jaringan tunas zat pengatur tumbuh ini akan menginduksi pembentukan bunga.

Beberapa Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) sudah sering digunakan untuk menginduksi pembungaan, mengatur produksi buah dan mengatur perkembangan biji (Khrishnamoorthy, 1981). Kacangan jenis ini memiliki sifat tumbuh awal agak lambat, setelah tumbuh dapat bertahan lama dan lebih tahan terhadap naungan. Ukuran biji kecil dengan warna putih agak abu-abu dan kusam.

Baca Juga : Jenis – Jenis Kecambah Kelapa Sawit

B. Centrosema pubescens (CP)

Biji Centrosema Pubescens

Biji Centrosema Pubescens

Centrosema pubescens merupakan legum yang berasal dari Amerika Selatan, merupakan tumbuhan perennial. Legum ini responsif terhadap pupuk P (Sutopo, 1985). Centrosema pubescens merupakan legum herba yang membelit, menjalar atau memanjat, batang agak tumbuh berbulu dan tidak berkayu, mempunyai tiga daun pada setiap tangkai (trifoliat), berambut, panjangnya 5-12 cm dan lebar 3-10 cm (Soegiri et al., 1982).

Butir kacang berwarna cokelat kehitaman, daun berbentuk bulat telur sampai bundar diameter 3 cm dan lebar 1,3 – 2 cm panjang, halus dibawah umur. Pada daun muda bagian stolons biasanya kemerahan segitiga. Perbungaan terdiri dari 3-5 lembar mahkota bunga berwarna violet kebiruan (gambar B.).

Kehidupan kacangan ini yang tumbuh merambat dan menjalar, mempunyai pengaruh buruk terhadap sawit muda, banyak daun dengan panjang sulur 1 – 4 m, tumbuh sampai ketinggian 250 m dpl, tidak peka sulurnya, bijinya di panen pada bulan Mei sampai Agustus, tahan terhadap musim kering, produksi daun tanaman berumur 10 bulan 400 -500 kwintal/ha yang mengandung 400 – 500 kg N dan 30 – 40 kg P2O5, pada tanah yang sesuai dibutuhkan biji 3 – 4,5 kg/ha.

Catatan : Centrosema pubescens (CP) memiliki sifat lambat tumbuh, tetapi tidak tahan naungan, sehingga tidak dapat bertahan lama

C. Calopogonium muconoides (CM)

Calopogonium mucunoides merupakan tanaman leguminosa yang berasal dari Amerika Selatan tropik yang bersifat perennial, dan hidup pada daerah yang kelembaban udaranya tinggi (Reksohadiprojo, 1985). Calopogonium mucunoides merupakan tanaman penutup tanah, tanaman sela dan tanaman pemberantas gulma.

Calopogonium mucunoides tumbuh menjalar dan memanjang, membentuk hamparan yang dapat mencapai ketinggian 30-50 cm. (Soegiri et al., 1990). tumbuh merambat dan menjalar, tidak mempunyai pengaruh buruk terhadap sawit muda.

Banyak daun dengan panjang sulur 1-3 m, tumbuh sampai ketinggian 300 m dpl dan sulurnya sangat peka sehingga akan mati kalau terinjak waktu panen, bijinya dipanen pada bulan April sampai Juni. Tanaman penutup tanah jenis colopogonium mucunoides tidak tahan terhadap musim kering yang panjang. Akan tetapi segera tumbuh lagi di awal musim hujan.

Jumlah produksi daun tanaman berumur 5 – 6 bulan yaitu berkisar 200 kwintal/ha dan mengandung 200-300 kg N dan 20-30 kg P2O5, pada tanah yang sesuai dibutuhkan biji 3 – 4,5 kg/ha.

D. Psophocarpus palustris (PP)

E. Calopogonium cearuleum (CC)

Calopogonium cearuleum (CC) memiliki sifat awal pertumbuhan yang lambat, tahan naungan dan berumur panjang. Komposisi kacangan yang biasa dipergunakan untuk ditanam adalah:

  1. 3 kg PJ + 2 kg CM + 0.5 kg CC, atau
  2. 3 kg PJ + 5 kg CM, atau
  3. Stek CC murni 2.200 babybag per hektar

Catatan : campuran kacangan akan ditanam setelah dicampur dengan pupuk Rock Phospat dengan perbandingan 1:1. Artinya 1 bagian kacangan akan dicampur 1 bagian pupuk, contoh : 3 kg PJ + 5 kg CM dicampur dengan 8 kg RP.

F. Crotalaria mucronata (orok-orok)

Crotalaria mucronata (orok-orok)

Crotalaria mucronata (orok-orok)

Orok-orok atau dengan nama latinnya Clotalaria mucronata merupakan salah satu jenis tanaman yang dikembangkan di areal revegetasi lahan pasca tambang. Benih dari orok-orok ini disebar di areal yang akan dihijaukan dengan harapan dapat tumbuh sebagai tanaman penutup / cover crop areal yang terbuka. Selain itu tanaman clotalaria sp ini memiliki kemampuan untuk mendetoksifikasi kandungan logam berat pada tanah.

Pengembangan orok-orok ini cukup sukses dengan dihasilkannya biji orok-orok dari hasil produksi benih yang disebar sebelumnya sehingga dapat terus dikembangkan secara continue dan tidak perlu lagi mendatangkan benih orok-orok dari luar.

Produksi biji yang sudah dihasilkan dikemas dalam kantong plastik ukuran sekitar 2 kg untuk memudahkan pada saat akan dipergunakan kembali dengan pemakaian 2 – 3 kg setiap satu hektare lahan penghijauan.

G. Mucuna bracteata (MB)

M. bracteata tahan kekeringan, tetapi tidak tahan terhadap genangan, serta toleransi naungan yang jauh lebih unggul dibandingkan konvensional mencakup yang kurang menimbulkan bahaya dalam murim kemarau. Memiliki tingkat tinggi senyawa fenolik yang menghalangi serangga dan ternak untuk memakannya.

Tanaman Penutup Tanah ini memiliki akar dalam jumlah yang signifikan dan menghasilkan sampah yang membusuk perlahan-lahan, dan meningkatkan kesuburan tanah permukaan. Pada awal tahun kedua penanaman M bracteata didominasi dua lainnya meliputi pertumbuhan dan sebaran.

Pengembangbiakan Mucuna bracteata (MB)

1. Cara generatif (dengan menggunakan biji)

Pengembangbiakan Mucuna bracteata dengan cara vegetatif ini umumnya dilakukan pada saat pertama kali tanam dengan jumlah tertentu sebagai indukan. Hal ini dikarenakan Mucuna bracteata tidak mudah untuk berbunga.

Pengembangbiakan dengan menggunakan biji ini juga sangat rumit, karena sebelum ditanam harus dilakukan pemotongan bagian tempat tunas, karena selaput Mucuna bracteata sangat keras. Pemotongan ini dilakukan dengan menggunakan pemotong kuku. Pemotongan ini harus sangat hati-hati jangan sampai terkena bagian daging biji ini, karena jika daging biji terluka akan menyebabkan biji akan mudah busuk ketika ditanam.

Cara Generatif

Cara Generatif

Diusahakan pemilihan biji Mucuna bracteata ini adalah biji yang renyah, karena biji yang mlempem akan sangat sulit untuk anbil bagian tadi.

Baca Juga : Pembibitan Kelapa Sawit

2. Cara vegetatif

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan dengan menggunakan metode vegetatif ini, yaitu:

  • Stek Pengembangbiakan dengan cara ini sangat sulit, presentase kehidupannya sangat rendah. Hal yang sering membatasinya adalah faktor air. Pada awal pertumbuhan kelihatan baik, tetapi untuk rentang waktu lama banyak yang layu dan busuk pada bagian batang.
Cara Vegetatif

Cara Vegetatif

Teknis stek : stek dilakukan dengan memotong sulur primer atau sekunder atau tersier, dengan menggunakan pisau tajam membentuk sulur dengan 2 ruas (contoh ) Hati hati saat penanaman stek, jangan sampai terbalik !!!

  • Merunduk Metode perbanyakan ini banyak dilakukan, dengan tujuan perbanyakan tanaman untuk jumlah banyak waktu dekat. Kelemahan metode ini adalah akan mematikan bagian tanaman muda yang belum dirundukkan.

    Cara Merunduk

    Cara Merunduk

Tingkat kehidupan tinggi, dan hasilnya cukup bagus. Ketika sudah cukup umur yang ditandai dengan munculnya akar pada polibag, maka dapat dipotong dan siap dipindah ke lapangan, penutupan tanah akan berjalan lambat, karena hasil stek akan cenderung memanjangkan sulurnya dahulu.

  • Menyusui Teknik perbanyakan ini mungkin yang paling efektif jika bertujuan untuk mempercepat penutupan tanah dengan menggunakan Mucuna bracteata.
Gambar Cara Perbanyakan Tanaman Penutup Tanah Dengan Cara Menyusui

Gambar Cara Perbanyakan Tanaman Penutup Tanah Dengan Cara Menyusui

Teknik menyusui pada tanaman penutup tanah ini sebenarnya modifikasi dari teknik merunduk Cuma berbeda caranya, caranya adalah sebagai berikut:

  • Cari sulur yang panjang kurang lebih 7 – 9 ruas.
  • Lingkarkan sulur tersebut dan pertemukan antar ruas pada satu titik. Ruas No. 1, 3, 5 , 7
  • Masukkan pertemuan sulur tersebut ke dalam polibag yang sudah terisi tanah dan padatkan (pastikan padat, dengan parameter sulur yang ditanam tersebut jika diangkat maka akan terangkat juga polibagnya)
  • Dan biarkan ± 2 minggu, lihat perkembangan akar
  • Potong dan siap dipindahkan ke lapangan. Perawatan Kacangan Perawatan kacangan penutup tanah meliputi pemupukan dan penyiangan.

Dosis dan Waktu Pemupukan LCC

Tanaman penutup tanah perlu dilakukan pemberian tambahan nutrisi berupa pupuk agar dapat tumbuh dengan baik dan subur. berikut dosis dan waktu pemupukan ditunjukkan pada tabel berikut.

(Bulan)

Urea TSP RP Kaptan
Sebelum tanam

400

Saat tanam (dicampur LCC) 6

1

15*

30*

3

60

6

120

12

150

Total 15 216 150

400

Pemupukan Kacangan Umur Kacangan Kilogram per Hektar (Bulan) Urea TSP RP Kaptan Sebelum tanam 400 Saat tanam (dicampur LCC)

Penyiangan pada larikan tanaman penutup tanah dilakukan dengan cara mencabuti dengan tangan atau cangkul kecil. Sedangkan penyiangan di bagian tepi kiri dan kanan larikan digaruk dengan cangkul selebar 45 cm. Rotasi penyiangan 2 minggu sekali sampai kacangan menutup sempurna. Penyiangan di antara larikan, dilakukan dengan penyemprotan herbisida Paracol (Paraquat + Diuron) dosis 1.5-2.0 liter/hektar blanket. Rotasi penyemprotan ini dilakukan 1.5-2 bulan sekali sampai pertumbuhan kacangan bergabung (menutup).

Artikel terkait Tanaman Penutup Tanah (LCC) Pada Kelapa Sawit