Sarana Informasi Pertanian

Berbagi Informasi Pertanian, Perkebunan dan Peternakan

Menu

Cara Jitu Mengendalikan Hama Tikus Pada Tanaman

Cara jitu mengendalikan hama tikus pada tanaman – Tikus merupakan salah satu hama yang sering dikeluhkan oleh petani. Hama tikus merupakan salah satu dari jenis hama tanaman yang menyebabkan petani mengalami kerugian besar akibat gagal panen apabila terserang hama ini. Sebelum memulai untuk tingkat mengendalikan hama Tikus (Rattus Sp.) ada baiknya terlebih dahulu mengenal jenis dari hama tikus.

Hama Tikus ( Rattus Sp. )

Hama Tikus ( Rattus Sp. )

Cara Jitu Mengendalikan Hama Tikus Pada Tanaman

Jenis hama tikus

Adapun jenis – jenis hama tikus yaitu :

  1. Tikus sawah (Rattus argentiventer)
  2. Tikus semak (Rattus tiominicus)
  3. Tikus rumah (Rattus rattus)
  4. Tikus ladang (Rattus exulans)

Sumber makanan hewan tikus berasal dari tumbuhan dan hewan tetapi tikus lebih menyukai makanan biji-bijian seperti gabah, beras, dan jagung. Seekor tikus dapat merusak 103 btg padi bunting/hari atau 283 btg bibit/hari. selain biji-bijian tikus juga menyukai tumbuhan umbi-umbian sedangkan untuk makanan berasal dari hewan tikus lebih menyukai serangga dan hewan kecil lainnya. menurut penelitian bahwa seekor tikus harus mencukupi kebutuhan makanan sebesar 10 % dari bobot tubuhnya.

Tikus merupakan hewan yang aktif pada malam hari sehingga aktivitas  mencari makanan dilakukan pada malam hari. Tikus mempunyai sifat neo-fobia”, yaitu rasa curiga atau takut terhadap benda-benda yang baru pertama kali ditemuinya. sehingga hal ini mempengaruhi keberhasilan pengendalian secara kimia menggunakan umpan beracun.

Diharapkan agar pengendalian hama tikus ini berhasil sebaiknya menggunakan umpan yang bebentuk alami yang banyak ditemukan dialam dan penggunaan pestisida dilakukan secara perlahan atau penggunaan racun membuat tikus mati dalam waktu beberapa hari. sebab tikus memiliki komunikasi yang baik kepada teman-temannya apabila seekor tikus mengalami keracunan maka tikus itu akan memberitahu dengan cara mengeluarkan suara kesakitan sebagai tanda bahaya. tikus akan melewati jalan yang sama hal ini disebabkan karena tikus merasa aman dibanding membuat jalur jalan yang baru. adapun ciri-ciri jalur/jalan yang dilewati tikus ditandai dengan bau air seni dan terdapat gesekan bennda-benda disekitar jalan.

Perkembangbiakan

Siklus Hidup Tikus

Siklus Hidup Tikus

Tikus berkembang biak dengan cara kawin. Perkembangbiakan tikus sangatlah cepat dimana tikus menjadi dewasa pada umur 3 bulan ( tikus sudah bisa kawin ), dengan masa kehamilan berlangsung selama kira-kira 3 minggu lamanya. jumlah anak yang dihasilkan dalam satu periode kelahiran sebanyak 4 -12 ekor tergantung gizi dari makanannya dan siap kawin lagi 2-3 hari setelah tikus tersebut melahirkan.

Pengendalian

Setelah memahami jenis dan perkembangbiakan tikus dapat dipastikan bahwa tikus merupakan ancaman besar yang harus diwaspadai petani maka dari itu perlu dilakukan cara jitu untuk mengendalian hama tikus yang menyerang tanaman padi,jagung,kelapa sawit, dll. dalam mengendalikan serangan hama tikus sebaiknya secara pengendalian hama terpadu.

Baca Juga : Pengenalan Jenis Dari Pestisida

Pada pengendalian hama terpadu menggunakan 3 prinsip utama yang dapat terapkan yaitu :

  • Menurunkan populasi tikus sampai pada ambang batas ekonomi ( Batas tidak merugikan secara ekonomis ) tidak memberantas keseluruhan,
  • Melindungi tanaman dari serangan tikus,
  • Mengurangi ketersediaan sumber makanan tikus.

Agar tingkat keberhasilan mengendalikan hama tikus secara terpadu tinggi maka diperlukan beberapa syarat, antara lain :

  • Pengendalian dilakukan secara serentak,
  • Pengendalian dilakukan secara berkelanjutan hingga jumlah populasi tikus berada pada tingkat tidak merugikan seccara ekonomi,
  • Penerapan pengamatan dini hama,
  • Tepat metode, yaitu menggunakan metode sesuai dengan kondisi lokasi, praktis dan sederhana,
  • Tepat sarana, yaitu penggunaan alat dan bahan yang tepat,
  • Dilakukan dengan perencanaan yang rapi.

Metode pengendalian terpadu Hama Tikus 

1. Pengendalian Secara Kultur Teknis

Pengendalian secara kultur teknis yaitu memanfaatkan cara bercocok tanam untuk menekan populasi tikus. adapun beberapa cara pengendalian secara kultur teknis sebagai berikut :

  • Melakukan pemberaan pada lahan, yaitu untuk beberapa saat lahan dibiarkan kosong dengan tujuan agar tikus tidak mendapatkan makanan di tempat tersebut dan pergi ke tempat lain.Apabila cara ini tidak dapat diterapkan, dapat dipergunakan cara berikutnya.
  • Melakukan pergiliran tanman, dimana dalam satu tahun musim tanam diusahakan untuk tidak ditanami padi terus menerus, tetapi diselingi dengan palawija, sehingga untuk tiga kali musim tanam adalah padi-padi-palawija atau padi-palawija-padi.Hal ini dapat menghambat perkembangan populasi tikus yang lebih cocok hidup pada tanaman padi dibandingkan dengan palawija.
  • Melakukan penanaman secara serempak pada areal yang cukup luas dengan varietas yang sama, sehingga panennya dapat serempak juga. Hal ini bertujuan untuk memutuskan rantai makanan tikus.
  • Mengatur jarak tanam, dengan cara menghilangkan baris ke enam dan kelipatannya (12, 18, 24 dan seterusnya) sehingga pertanaman terdapat celah-celah kosong. hal ini karena tikus lebih menyukai menyerang pada bagian tengah pertanaman yang rapat.

Pengendalian dengan sanitasi

Cara ini cukup efektif dalam menurunkan jumlah populasi tikus. Prinsip pengendalian dengan sanitasi yaitu menghilangkan daya dukung lingkungan untuk tikus dengan cara membersihkan sisi tanaman disekitar tanaman yang berpotensi menjadi sarang tikus. sanitasi juga diterapkan pada gudang penyimpanan bahan yaitu membersihkan tumpukkan barang, bahan yang potensi menjadi sarang tikus.

Mengendalikan Hama Tikus Secara Fisik-Mekanis

Pengendalian cara ini merupakan hal yang paling awal dilakukan untuk menekan jumlah tikus. Pengendalian ini menggunkan prinsip dasar yaitu menghalangi dan membunuh tikus masuk ke lokasi tanaman baik secara lagsung maupun dengan bantuan alat. beberapa alat yang biasa digunakan antara lain : pemukul kayu, perangkap, dan senapan angin.

Penerapan pengendalian secara fisik-mekanis sebagai berikut :

  • Membuat penghalang mekanis dari bahan yang tahan terhadap gigitan tikus seperti aluminium, seng, kawat dan lain-lain. Mengaliri arus listrik dengan tegangan rendah juga bisa dilakukan sebagai penambahan pada pagar penghalang,
  • Memasang jeratan dan perangkap pada Jalur jalan yang biasa dilalui tikus. Biasanya hal ini dilakukan pada areal tanaman pangan dan perkebunan,
  • Mengadakan kegiatan gropyokan dengan membongkar sarang tikus kemudian langsung membunuh tikus.

Keuntungan dari cara mengendalikan hama tikus dengan sistem ini dibandingkan secara kimia antara lain petani puas karena hasil terlihat jelas. namun cara ini juga memiliki kelemahan yaitu jumlah populasi tikus dapat kembali meningkat karena biasanya petani akan malas. selain itu cara ini juga berpotensi untuk merusak tanaman yang ada dilapangan dan kelemahan pengendalian ini juga memerlukan jumlah tenaga kerja yang besar sehingga terjadi pembengkakan biaya.

Mengendalikan Hama Tikus Secara Biologi

Prinsip pengendalian cara ini yaitu menggunakan musuh alami tikus yang dapat membunuhnya. Musuh alami tikus dibagi 2 sebagai berikut :

Predator atau pemangsa langsung memakan tikus

  1. Ular, yaitu ular piton atau sanca (Pyton sp.),ular kobra (Naja sp.)dan ular tikus (Ptyas sp.), .
  2. Burung buas, yaitu burung elang (Elanus sp.), burung hantu (Bubo sp. dan Tyto alba) serta kowak maling (Nyctytorax sp.).
  3. Hewan menyusui pemakan daging, yaitu musang (Viverra sp.), garangan (Herpestes sp.), kucing (Felis catus), dan anjing (Canis Familiaris).

Burung Buas seperti Burung hantu, Elang merupakan hewan yang sangat efektif digunakan sebagai predator untuk menurunkan populsai tikus. mengendalikan hama tikus dengan cara ini banyak dilakukan oleh beberapa perusahaan perkebunan.

Patogen

Patogen merupakan mikroorganisme yang dapat menimbulkan penyakit pada tikus sehingga dapat membunuh tikus secara tidak langsung. Patogen yangbiasa digunakan antara lain bakteri Salmonella, namun apabila pengaplikasian bakteri ini dalam jumlah besar dapat membahayakan manusia karena bakteri ini juga dapat menimbulkan penyakit pada manusia.

Cara Mengendalikan Hama Tikus Secara Kimia

Pada prinsipnya pengendalian ini menggunakan bahan-bahan kimia. Secara umum pengendalian kimia ini dapat dibagi menjadi 4 bagian yaitu :

a. Fumigasi (asap beracun)

Fumigasi dapat digunakan pada saat tanaman padi memasuki stadia generatif, karena pada saat itu umpan beracun yang diberikan tidak akan dimakan oleh tikus.Tikus lebih tertarik pada tanaman padi terutama pada bagian malai.Asap beracun dikeluarkan atau diemposkan dengan bantuan alat alat pengempos yang terbuat dari logam tahan panas.Bahan-bahan yang digunakan dalam fumigasi adalah merang ditamabh belerang, kemudian dibakar.

Jika tidak ada belerang, merang sendiri dapat digunakan, karena pada pembakaran merang akan dihasilkan gas karbondioksida (CO2) dan karbon monoksida (CO) yang juga dapat meracuni tikus.Penambahan belerang akan terbentuk gas belerang dioksida (SO2) sebagai bahan tambahan untuk membunuh tikus lebih cepat. Kelebihan dari cara fumigasi dibandingkan cara memberi umpan beracun yaitu cara fumigasi dapat membunuh membunuh anak-anak tikus hingga kutu yang menempel di kulit tikus, sedangkan dengan pengendalian umpan beracun hal ini tidak terjadi.

Mengendalikan Hama Tikus Dengan Pengasapan

Mengandalikan Hama Tikus Dengan Pengasapan

Umpan beracun biasanya dibuat dari kombinasi antara racun, bahan pemikat, bahan pewarna, bahan pengikat, dan bahan pengawet.Secara umum racun dibedakan menjadi dua kelompok berdasarkan cara kerjanya pada tikus, yaitu racun akut (racun yang cara kerjanya mempengaruhi sistem syaraf tikus) dan racun kronis/racun antikoagulan (racun yang cara kerjanya mempengaruhi atau menghambat proses koagulasi/pembekuan darah).Umpan yang biasa digunakan adalah biji-bijian serealia terutama beras dan jagung karena makanan ini yang paling disukai oleh tikus.

Bahan Umpan Racun

Bahan pemikat (attractant) merupakan bahan yang ditambahkan pada umpan tikus dengan tujuan untuk menarik tikus agar mau makan umpan tersebut. Bahan penarik ini biasaya berupa gula atau vetsin (bumbu masak) atau bahan-bahan lain yang merupakan hasil penelitian perusahaan pestisida. dan biasanya tidak diberitahukan kepada masyarakat umum.

Bahan pewarna (colouringu) yang biasa digunakan adalah pewarna makanan, dan pewarna kain yang mudah larut.Walaupun tikus termasuk hewan yang buta warna, tetapi tikus cenderung tertarik pada warna-warna tertentu, seperti hijau, kuning dan hitam.

Bahan pengikat (binder) merupakan bahan yang digunakan untuk mengikat atau melekatkan racun dengan umpan dan bahan-bahan lainnya. Bahan pengikat yang biasa digunakan adalah minyak nabati (tumbuh-tumbuhan) yang berasal dari kelapa, jagung atau kacang tanah.

Bahan pengawet (preservative) merupakan bahan digunakan untuk meningkatkan daya tahan rodentisida baik di tempat penyimpanan maupun selama diaplikasikan di lapang terhadap gangguan dari luar. terutama baik gangguan dari makhluk hidup (serangga, cendawan, dan lain-lain) atau gangguan cuaca (hujan, suhu,dan lain-lain).Bahan pengawet/pelindung dari serangan serangga adalah insektisida. dari serangan cendawan adalah fungisida.Yang perlu diperhatikan adalah pemberian pestisida ini dapat mengurangi keinginan tikus utuk memakannya, maka pemberian pestisida ini harus melalui serangkaian percobaan. Bahan pengawet terhadap gangguan cuaca adalah lilin atau parafin, dengan perbandingan lilin 30-40% dan umpan beracun 60-70%.

b. Repellent (bahan pengusir) dan Attractant (bahan pemikat)

Bahan kimia pengusir ini sebenarnya dibuat bertujuan untuk mengamankan dan menhindarkan hasil pertanian yang disimpan di gudang dari serangan burung. dari beberapa pengujian bahan kimia ada beberapa bahan sebagai bahan pengusir tikus antara lain naftalen, kapur, bubuk belerang, dan ekstrak buah cabai. tetapi dalam praktek pelaksanaan dilapangan masih mengalami kesulitan. dan untuk bahan pemikat dalam dilakukan sebagai bahan pencampuran didalam umpan beracun untuk menarik tikus dan sebagai umpan didalam perangkap tikus.

c. Chemo-sterilant (bahan pemandul)

Cara kerja bahan ini terjadi di dalam tubuh tikus bersifat khusus seperti halnya bahan kontrasepsi pada manusia, yaitu :

  • Menghambat pembentukan sel telur,
  • Menghambat terjadinya pembuahan (pertemuan sel sperma dengan sel telur),
  • Mencegah terjadinya penempelan embrio pada dinding rahim,
  • Menyebabkan keguguran,
  • Menghambat pembentukan air susu pada induk tikus, dan
  • Menjadikan keturunannya tikus mandul.

Dalam prakteknya mengendalian hama tikus menggunakan bahan kimia pemandul ini sulit untuk diterapkan karena proses pembuatan bahan membutuhkan biaya yang tinggi dan hasil yang dicapai masih belum memuaskan.

Baca Juga : Cara Budidaya Jagung Agar Produksi Tinggi

Artikel terkait Cara Jitu Mengendalikan Hama Tikus Pada Tanaman